Kamis, 06 Mei 2010

Strategi Integrasi Peternakan Sapi

PENGEMBANGAN SISTEM INTEGRASI SAPI – PERKEBUNAN

SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN PETERNAKAN SAPI

MENUJU SWASEMBADA DAGING 2010



(SUATU SUMBANG SARAN PEMIKIRAN)

Oleh: Suharyanto



PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK

JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BENGKULU

APRIL 2006



1 PETERNAKAN DAN KETERSEDIAAN DAGING

Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian dalam

arti luas. Dengan adanya reorientasi kebijakan pembangunan sebagaimana tertuang

dalam program RPPK (Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan) maka

pembangunan pertanian perlu melakukan pendekatan yang menyeluruh dan integratif

dengan sub sektor yang lain dalam naungan sektor pertanian. Hal ini semakin penting

untuk dilakukan apabila dikaitkan dengan program swasembada daging tahun 2010.

Program swasembada daging ini merupakan respon adanya fakta bahwa

kebutuhan konsumsi daging meningkat yang ditandai dengan kecenderungan impor

daging dan sapi hidup yang jumlahnya terus meningkat pada dasawarsa terakhir, dimana

pada tahun 2002 nilai impor daging (termasuk produk olahannya) dan sapi hidup

mencapai US$106.003.410,00 sedangkan populasi sapi potong secara nasional dari tahun

1994 – 2002 mengalami penurunan sebesar 3,1 persen per tahun (BPS, 2003 dan

Anonim, 2005). Menurut data Ditjennak (2004) disitasi Anonim (2005), populasi sapi

potong tahun 2000 – 2004 berturut-turut adalah 11.008.017, 11.137.701, 11.297.625,

10.504.128, 10.726.347 ekor. Sementara itu, impor daging dan sapi hidup telah

menganggu sistem pasar lokal sebagaimana yang telah terjadi pada peternak sapi di Jawa

Barat yang mengeluhkan akan adanya daging sapi impor karena telah menurunkan

penjualannya hingga 50% (Kompas, 06 Mei 2005).

Saat ini usaha peternakan untuk menghasilkan sapi bakalan (cow calf operation)

dalam negeri 99 persen dilakukan oleh peternakan rakyat yang sebagian besarnya

berskala kecil dengan tingkat kepemilikan 1 – 5 ekor per KK. Usaha ini biasanya

terintegrasi dengan kegiatan lainnya, sehingga fungsi sapi sangat kompleks (Anonim,

2005). Oleh karenanya pembuatan kebijakan dalam pembangunan peternakan tidaklah

terlepas dari kondisi objektif bahwa mayoritas masyarakat Indonesia tidak memilahmilah

secara jelas antara peternakan dan pertanian umumnya. Hal ini dikarenakan sistem

usahatani yang masih bersifat subsisten yang banyak oleh petani gurem.

Banyaknya peternakan rakyat yang berperan dalam menghasilkan sapi bakalan ini

mendorong perlunya pengembangan peternakan berbasis kerakyatan. Hal yang menjadi

permasalahan adalah bahwa kepemilikan ternak yang relatif kecil tersebut secara

ekonomis kurang menguntungkan sementara petani tidak secara khusus melakukan

kegiatan usaha peternakan. Ini, tentu saja, memerlukan upaya bagaimana meningkatkan

usaha peternakan dengan tetap terintegrasi dengan sistem usahatani yang tengah

dilangsungkannya.

2 RUMAH TANGGA PETANI

Berdasarkan Sensus Pertanian tahun 2003 (BPS, 2004) terdapat 52,6 juta Rumah

Tangga (RT) dimana terdapat 25,6 juta RT pertanian. Jumlah RT pertanian ini secara

absolut meningkat dari 20,8 juta pada tahun 1993 dengan rata-rata pertumbuhan sekitar

2,10% pertahun. Namun demikian secara persentase terdapat penurunan yaitu dari

sebesar 50,45% RT pertanian terhadap total RT pada tahun 1993 menjadi 48,66% pada

tahun 2003. Akan tetapi, dari 25,6 juta RT pertanian terdapat 24,4 juta RT pengguna

lahan dan ini menunjukkan peningkatan sebesar 1,7% dari tahun 1993. RT pengguna

lahan masih didominasi pengguna lahan untuk kegiatan pertanian padi/palawija, yaitu

sebanyak 18,1 juta RT. Selanjutnya diikuti oleh pengguna lahan untuk kegiatan

pertanian hortikultura sebanyak 9,3 juta, perkebunan 7,7 juta, budidaya tanaman

kehutanan 3,7 juta, peternakan 6,5 juta, kolam air tawar/sawah 0,8 juta dan tambak/air

payau sebanyak 0,15 juta RT.

Masih menurut BPS (2004) bahwa tahun 2003 terdapat 13,7 juta petani gurem

yang juga meningkat 2,4% pertahun sejak 1993, dimana terdapat 52,1% pada tahun 1993

menjadi 56,2% tahun 2003.. Petani gurem ini kebanyakan terdapat di Pulau Jawa, yaitu

terdapat 25,14% petani gurem terdapat di Jawa Timur, 22,98 di Jawa Tengah, 18,84% di

Jawa Barat, dan 3,15% di Provinsi Banten. Sementara di daerah-daerah lain jumlah

petani guremnya relatif kecil, yaitu kurang dari 3 % dari total petani gurem se-Indonesia,

kecuali Sumatera Utara, yaitu 4,1%. Meningkatkanya petani gurem di pulau Jawa diduga

karena adanya sistem pewarisan tanah yang berbagi dan konversi lahanproduktif menjadi

areal non pertanian.

Berdasarkan uraian data di atas menunjukkan bahwa sektor pertanian masih

menjadi bidang pekerjaan utama masyarakat Indonesia. Dari sebanyak 52,6 juta RT

hanya 6,5 juta yang menyelenggarakan kegiatan utama peternakan. Kecilnya aktivitas

RT utama bidang peternakan ini bukan berarti pada jenis usaha pertanian lain tidak

terdapat usaha peternakan, justru bisanya ternak yang dipelihara terintegrasi dengan

sistem usahatani lainnya. Hal ini mendorong untuk dilakukannya terobosan baru untuk

meningkatkan aktivitas yang melibatkan peternakan sebagai usaha keluarga dan

masyarakat serta swasta ataupun pemerintah dalam sistem yang terintegratif sehingga

secara kumulatif dapat meningkatkan total pendapatan usahatani keseluruhan dengan

tanpa lahan baru.

3 PENGGUNAAN LAHAN DAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Secara umum, penggunaan lahan untuk semua jenis lahan mengalami

peningkatan sejak tahun 1995 sampai 1998. Bukan hanya pemanfaatan lahan untuk

bangunan – sebagai konskuensi pertambahan populasi dan aktivitas pembangunan – yang

meningkat, pemanfaatan lahan untuk perkebunan, penggembalaan dan lahan yang

sementara tidak diusahaan juga mengalami peningkatan (Tabel 1).

Tabel 1. Luas penggunaan lahan di Indonesia

No. Jenis Lahan

Tahun

1995 1996 1997 1998

1 Sawah 8.484.687 8.519.110 8.490.044 8.504.917

2

Pekarangan/Lahan Bangunan dan

Halaman Sekitarnya

5.155.422 5.291.375 5.331.489 5.516.440

3 Tegal/Kebun 8.244.882 8.383.599 8.382.311 8.568.675

4 Ladang/Huma 3.123.625 3.179.213 3.225.883 3.247.242

5 Padang Rumput 1.889.399 1.953.085 2.056.332 2.016.972

6 Rawa-rawa 3.883.019 4.172.930 4.270.515 4.268.701

7 Tambak 422.564 438.500 467.265 481.315

8 Kolam/Tebat/Empang 182.156 183.860 168.716 168.377

9 Lahan yang Sementara Tidak Diusahakan 6.967.938 7.335.586 7.577.909 7.720.257

10 Lahan Tanaman Kayu-kayuan 9.555.010 9.446.070 9.133.621 9.072.416

11 Perkebunan Negara 13.835.746 14.488.415 15.016.014 16.460.966

Total 61.744.448 63.391.743 64.120.099 66.026.278

Sumber: http://www.deptan.go.id/infoeksekutif/sdl/lspenggunaan_lahan_ind.htm, diakses

3 April 2006

Peningkatan penggunaan lahan untuk padang penggembalaan, lahan yang

sementara tidak diusahakan dan perkebunan mengisyaratkan adanya peluang untuk

dimanfaatkan bagi pengembangan peternakan secara lebih optimal. Untuk lahan

perkebunan tertentu (misal kelapa sawit) dapat diterapkan sistem integrasi sapi – kelapa

sawit. Satu hal lagi yang belum terungkap dari data di atas adalah peningkatan jumlah

perkebunan rakyat, terutama perkebunan kelapa sawit. Luas kebun kelapa sawit secara

nasional mengalami peningkatan secara signifikan. Pada tahun 2000 terdapat 4.158.079

ha, tahun 2001 meningkat menjadi 4.713.435 ha dan 2002 meningkat lagi menjadi

5.067.058 ha (http://www.deptan.go.id).

4

Luasan lahan kebun kelapa sawit yang sedemikian tersebut akan memberi

keuntungan ganda bila dikombinasikan dengan peternakan spi potong. Bila diasumsikan

per hektar mampu menampung 3 ekor sapi dewasa maka secara kasar dapat

dikalkulasikan bahwa luas areal kebun kelapa sawit tersebut dapat menambah tidak

kurang dari 15 juta ekor sapi dewasa. Data populasi sapi potong hingga tahun 2004

adalah sebanyak 10.726.347 ekor dan bila ditambah dengan populasi sapi potong yang

dapat ditampung pada areal kebun kelapa sawit maka jumlahnya bisa menjadi tidak

kurang dari 25 juta ekor. Penambahan populasi sebanyak 15 juta ekor tentu saja suatu

peningkatan yang signifikan dalam rangka menuju swasembada daging 2010.

PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan beberapa uraian tentang kondisi saat ini (existing condition) di atas

maka dapat ditarik suatu perumusan masalah sebagai berikut:

1. Terdapat kesenjangan antara permintaan akan daging sapi dengan produksi dalam

negeri.

2. Produksi daging sapi sebagian besar (99%) dilakukan oleh peternakan rakyat dengan

skala usaha antara 1 – 5 ekor sapi sehingga secara ekonomis tidak menguntungkan,

ditambah lagi dengan sistem usaha yang bersifat subsisten.

3. Lahan yang tersedia, terutama di luar Pulau Jawa, belum optimal pemanfaatannya

karena hanya difungsikan untuk satu jenis usahatani walaupun sebenarnya bisa

dimanfaatkan untuk usahatani ternak secara terintegratif.

TAWARAN SOLUSI

Berdasarkan uraian dan perumusan masalah yang ada maka solusi yang dapat

ditawarkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan “pengembangan

ternak sapi melalui sistem integrasi dengan perkebunan kelapa sawit”. Melalui sistem

integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan total pendapatan usahatani dan menekan

biaya produksi sekaligus dapat meningkatkan populasi sapi. Sasaran dari solusi ini

adalah petani di luar Jawa yang masih memungkinkan karena terdapat lahan perkebunan

yang memenuhi syarat untuk diterapkannya sistem integrasi dengan sapi.

5

RENCANA IMPLEMENTASI

Tawaran solusi di atas dapat diimplementasikan dalam beberapa tahap, yaitu

tahap jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Masing-masing tahapan ini

diuraikan sebagai berikut.

1. Jangka pendek

Langkah pertama pelaksanaan ini adalah melalui pemberian pinjaman lunak

dalam bentuk bibit sapi kepada para petani yang memiliki kebun sawit. Selanjutnya,

diterbitkan kebijakan bagi usaha perkebunan negara dan swasta untuk dapat menerapkan

sistem integrasi bila memungkinkan. Untuk dapat mewujudkan langkah ini maka

diperlukan kebijakan anggaran, oleh karenanya maka perlu adanya terobosan fiskal dan

moneter yang terkait dengan program ini sehingga akan memberi kemudahan dari segi

fiskal dan moneter.

Solusi awal pada tahap jangka pendek ini adalah memberikan suntikan “modal”

kepada petani/peternak, dimana ternak dapat dipergunakan sebagai tenaga kerja dalam

usahatani perkebunannya sekaligus dapat memberi kontribusi pada kesuburan berupa

pupuk organik.

2. Jangka Menengah

Pada tahap jangka menengah ini dikembangkan suatu konsep kawasan peternakan

sapi yang terintegrasi dengan sistem usahatani perkebunan. Pada jangka menengah ini

diharapkan populasi ternak sapi telah meningkat sehingga dapat diterapkan suatu sistem

pemberdayaan usaha peternakan. Sistem pemberdayaan ini dapat berupa pengembangan

sistem perbibitan, pos kesehatan hewan, manajemen dan jaringan pemasaran produk.

Termasuk dalam upaya ini adalah adanya kelembagaan petani dan jaringan kemitraan

antara perkebunan swasta dengan perkebunan rakyat dalam kaitannya dengan sistem

usahatani integratif.

3. Jangka Panjang

Tujuan jangka panjangnya adalah pengembangan industri pertanian berbasis

peternakan dan perkebunan. Jangka panjang ini tercapai bila tahap jangka menengah

telah tercapai, yaitu telah terbentuknya suatu sistem kawasan pertanian/peternakan

dengan sistem pemberdayaan usaha yang memadai.

Sistem industri pertanian ini tentu saja membutuhkan modernisasi pertanian

(peternakan), untuk itu diperlukan pengembangan manajemen profesional yang

melibatkan petani sebagai subyeknya. Pada saat yang bersamaan dikembangkan juga

6

teknologi tepat guna, misalnya teknologi transportasi, pengolahan limbah dan kotoran

ternak, teknologi pemotongan ternak dan lain-lain. Agar modernisasi pertanian dapat

berjalan dengan sebaik-baiknya maka pemberdayaan petani menjadi mutlak dilakukan,

yaitu upaya meningkatkan kemampuan petani dalam usaha budidaya pertaniannya yang

berorientasi agribisnis.

PENGEMBANGAN SISTEM PERKUATAN USAHATANI

Pada pengembangan kawasan (tahap jangka menengah) menuju pengembangan

sistem industrial (tahap jangka panjang) maka perlu dibangun suatu sistem

pemberdayaan/perkuatan bisnis yang mendukung sistem usahatani peternakan sapi ini.

Beberapa komponen yang mendukung sistem usahatani ini adalah a) agribisnis

peternakan itu sendiri, yaitu industri hulu dan hilir dan b) agribisnis turunan peternakan.

1. Agribisnis Peternakan

Dalam pengembangan sistem perkuatan pada agribisnis peternakan ini mencakup

pengembangan industri hulu dan hilir. Pengembangan industri hulu meliputi perlunya

pembangunan sistem perbibitan berupa calon-calon induk dan pejantan unggul, dan

ketersediaan pakan baik secara kuantitatif dan kualitatif serta alat dan mesin sarana

produksi. Pada sistem perbibitan dapat dilakukan melalui program IB dan penyediaan

pejantan unggul. Penyediaan pakan dalam pola integrasi dapat dipenuhi melalui

pemanfaatan limpahan biomassa hasil samping usaha perkebunan maka dapat

mengurangi biaya pakan secara signifikan, sementara kotoran ternak juga dapat

dimanfaatkan untuk perkebunan berupa pupuk organik. Dengan demikian maka

diharapkan akan menuju usaha pertanian terpadu yang ‘zero waste’.

Pada industri hilir perlu dikembangkan industri pascapanen dan pengolahan.

Disini perlu dikembangan Rumah Potong Hewan (RPH) dan tempat penyimpanan

produk secara memadai. Bilamana perlu masyarakat dan swasta didorong untuk dapat

mengembangkan industri pengolahan daging.

2. Agribisnis turunan peternakan

Pengembangan agribisnis ini akan turut menunjang perkuatan sistem

pemberdayaan usahatani peternakan. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan

pengembangan usaha energi alternatif berupa biogas dan pengembangan pupuk organik

melalui pemanfaatan kotoran ternak. Selain itu

7

DAFTAR PUSTAKA

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia: Impor

2002 Vol 2. Jakarta: BPS

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2004. Berita Resmi Statistik No 14/VII/16 Februari 2004:

Sebaran Rumah Tengga Pertanian dan Rumah Tangga Petani Gurem menurut

Propinsi di Indonesia. Jakarta: BPS.

[Kompas] Kompas. 2005. Pedagang sapi lokal keluhkan daging impor. Jakarta:

Kompas, Jumat 06 Mei 2005.

Anonim. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Sapi. Jakarta: Deptan.

http://www.deptan.go.id/infoeksekutif/sdl/lspenggunaan_lahan_ind.htm, 3 April 2006

http://www.deptan.go.id/bdspweb/f4-free-frame.asp, 28 Maret 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar